Menembus Lintas Sumatera: Kisah 72 Jam Perjalanan Tim BMH Demi Misi Kemanusiaan di Aceh Tamiang
GENZMEDIA.ID, AEH TAMIANG — Deru mesin kendaraan yang mengiringi perjalanan panjang itu akhirnya mereda ketika rombongan relawan tiba di kawasan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Pada Kamis (25/1/2025), Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) resmi menerima kedatangan tim transisi yang menempuh perjalanan darat dari Jakarta.
Wajah-wajah para relawan tampak lelah, namun tersirat kepuasan dan rasa syukur. Perjalanan yang mereka tempuh bukan perjalanan biasa. Selama sekitar 72 jam, tim harus melintasi berbagai provinsi di Pulau Sumatera demi satu tujuan: memperkuat barisan relawan kemanusiaan untuk membantu penanganan bencana banjir di Aceh Tamiang.
Bagi tim BMH, perjalanan ke Aceh Tamiang ini bukan sekadar perpindahan jarak dari Jakarta menuju Sumatera Utara. Lebih dari itu, perjalanan panjang tersebut menjadi simbol komitmen dan pengorbanan dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Perjalanan dimulai sejak Senin (22/1/2025). Dari titik awal keberangkatan di Jakarta, rombongan relawan harus berpacu dengan waktu dan ketahanan fisik hingga akhirnya tiba di Sumatera Utara pada Kamis (25/1/2025).
Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang memimpin langsung rombongan tersebut, menggambarkan perjalanan lintas Sumatera itu sebagai ujian ketahanan fisik sekaligus mental bagi seluruh anggota tim.
“Jika dirangkum, kami menempuh perjalanan seperti ‘tiga kali 12 jam’. Etape yang kami lalui meliputi Palembang–Jambi, Jambi–Pekanbaru, hingga Pekanbaru–Medan. Setiap rute memiliki tantangannya masing-masing,” ungkap Imam Nawawi.
Ia menjelaskan bahwa hanya ruas Lampung menuju Palembang yang relatif lebih ramah dari segi waktu tempuh, yakni sekitar empat jam perjalanan. Selebihnya, tim harus menghadapi perjalanan panjang yang melelahkan.
Beberapa jalur bahkan menuntut konsentrasi tinggi karena waktu tempuh yang sangat panjang. Dalam beberapa etape, tim harus berkendara secara konstan selama sekitar 12 jam. Bahkan pada salah satu titik perjalanan, durasi tempuh mencapai hampir 17 jam tanpa henti.
“Ini memang menjadi tantangan tersendiri. Namun di sisi lain, perjalanan ini juga memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kami semua. Bahwa menjemput dan mengantarkan kebaikan, terutama melalui jalur darat, membutuhkan stamina yang kuat serta semangat yang tidak boleh padam,” ujarnya.
Oase di Tengah Jalur Lintas
Di tengah perjalanan panjang yang melelahkan, tim relawan BMH menemukan energi baru melalui silaturahim dengan para dai dan jaringan dakwah di berbagai daerah yang mereka lewati.
Ketika singgah di Jambi, rombongan disambut hangat oleh Ustaz Arif Abidin, dai BMH yang selama ini aktif menggerakkan kegiatan dakwah dan sosial di wilayah tersebut. Sambutan penuh kehangatan itu menjadi penguat semangat bagi para relawan yang tengah menempuh perjalanan panjang.
Suasana serupa juga dirasakan saat tim tiba di Pekanbaru, Riau. Di kota ini, rombongan bersilaturahim dengan Ustaz Suheri Abdullah di salah satu pesantren Hidayatullah.
Meski pertemuan berlangsung singkat, namun kehangatan persaudaraan serta doa-doa yang dipanjatkan para dai setempat menjadi “charger energi” bagi para relawan.
Di tengah kelelahan akibat perjalanan panjang, dukungan moral dari para dai di daerah menjadi bekal berharga untuk melanjutkan perjalanan menuju Sumatera Utara.
Napak Tilas Perjuangan Para Dai
Bagi Imam Nawawi, perjalanan panjang dari Jakarta menuju Medan ini juga memunculkan refleksi mendalam tentang sejarah perjuangan dakwah di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera.
Ia mengungkapkan bahwa jika saat ini perjalanan dengan kendaraan modern saja terasa begitu panjang dan melelahkan, maka dapat dibayangkan bagaimana beratnya perjuangan para dai perintis dakwah pada masa lalu.
“Ada hikmah besar yang kami rasakan sepanjang perjalanan ini. Sekarang saja perjalanan ke Sumatera terasa panjang dan menguras tenaga. Kita bisa membayangkan betapa luar biasanya perjuangan para dai senior di masa awal,” tutur Imam.
Ia membayangkan masa-masa awal perintisan pesantren dan basis dakwah di berbagai titik di Pulau Sumatera, ketika akses jalan masih terbatas dan fasilitas transportasi belum semudah sekarang.
Menurutnya, perjuangan para dai terdahulu menjadi inspirasi bagi generasi hari ini untuk terus menjaga semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Sungguh, napas perjuangan mereka sangat luar biasa. Apa yang kami lakukan hari ini tentu belum sebanding dengan pengorbanan mereka dahulu,” katanya.
Kini, setelah menuntaskan perjalanan panjang lintas Sumatera, tim relawan BMH bersiap menjalankan tugas utama mereka: menyalurkan amanah kebaikan kepada para penyintas banjir di Aceh Tamiang.
Perjalanan yang melelahkan telah terlewati. Namun bagi para relawan, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai—menghadirkan harapan, bantuan, dan kepedulian bagi masyarakat yang tengah menghadapi ujian bencana./Herim
