Menembus Lintas Sumatera: Kisah 72 Jam Perjalanan Tim BMH Demi Misi Kemanusiaan di Aceh Tamiang
GENZMEDIA.ID, DELI SERDANG — Deru mesin kendaraan yang menemani perjalanan panjang itu akhirnya mereda di Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kamis (25/12), Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) secara resmi menerima kedatangan tim transisi yang bertolak dari Jakarta.
Wajah-wajah letih tampak jelas dari para relawan. Namun di balik mata yang menyimpan sisa kelelahan, tersirat kepuasan dan rasa syukur. Mereka baru saja menuntaskan perjalanan darat selama kurang lebih 72 jam, sebuah etape panjang yang benar-benar “membelah” Pulau Sumatera dari selatan ke utara. Misi mereka satu dan tak tergantikan: memperkuat barisan relawan dalam penanganan bencana banjir yang melanda Aceh Tamiang.
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis dari Jakarta menuju Sumatera Utara. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ikhtiar panjang yang mengangkut semangat keimanan, kepedulian, dan kemanusiaan. Dimulai sejak Senin (22/12), tim harus berpacu dengan waktu, stamina, dan kondisi medan hingga akhirnya tiba dengan selamat pada Kamis, 25 Januari 2025.
Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang memimpin langsung rombongan tersebut, menyebut perjalanan ini sebagai ujian ketahanan fisik sekaligus mental bagi seluruh tim.
“Kalau dirata-rata, kami menempuh perjalanan ‘tiga kali 12 jam’. Mulai dari Palembang ke Jambi, lalu Jambi ke Pekanbaru, dan Pekanbaru menuju Medan. Rute ini penuh kejutan. Hanya ruas Lampung–Palembang yang relatif bersahabat, dengan waktu tempuh sekitar empat jam,” ujar Imam Nawawi.
Selain jalur yang panjang, tantangan datang dari kondisi jalan, cuaca, serta padatnya arus kendaraan di sejumlah titik lintas utama Sumatera. Bahkan, salah satu etape perjalanan memaksa tim berkendara hingga 17 jam tanpa jeda berarti.
“Ini memang berat. Tapi di sisi lain, ini pelajaran mahal bagi kami. Mengantar kebaikan melalui jalur darat membutuhkan stamina baja dan semangat yang sama sekali tidak boleh padam,” tambahnya.
Oase di Tengah Jalur Lintas
Di tengah himpitan panas aspal dan rasa lelah yang terus menguji, tim BMH menemukan oase spiritual yang menyejukkan. Di beberapa titik perjalanan, mereka menyempatkan diri bersilaturahim ke basis-basis dakwah dan pesantren.
Di Jambi, rombongan disambut hangat oleh Ustadz Arif Abidin, dai BMH setempat. Sambutan penuh kekeluargaan itu menjadi pelepas penat sebelum perjalanan kembali dilanjutkan. Energi serupa kembali dirasakan saat tim singgah di Pekanbaru dan bertemu dengan Ustadz Suheri Abdullah.
Dua pertemuan singkat di lingkungan Pesantren Hidayatullah tersebut menjadi semacam “charger ruhani” bagi para relawan. Doa-doa tulus dan pesan penguatan dari para dai di daerah menjadi bekal yang tak ternilai saat kendaraan kembali melaju menuju Sumatera bagian utara.
Napak Tilas Jejak Perjuangan Dai
Bagi Imam Nawawi, perjalanan darat Jakarta–Medan ini juga melahirkan perenungan yang mendalam. Jika dengan kendaraan modern dan fasilitas saat ini saja perjalanan terasa begitu panjang dan melelahkan, bagaimana dengan para perintis dakwah pada masa lalu?
“Ada hikmah besar yang kami rasakan. Sekarang saja, dengan semua kemudahan, perjalanan ke Sumatera masih terasa berat. Terbayang betapa luar biasanya perjuangan para dai senior dahulu,” tuturnya.
Ia membayangkan masa-masa awal perintisan pesantren dan dakwah di berbagai penjuru Sumatera, ketika akses transportasi terbatas dan fasilitas belum semapan sekarang.
“Sungguh, napas perjuangan mereka sangat luar biasa. Ini menjadi pengingat bagi kami untuk tidak mudah mengeluh dalam menjalankan amanah,” pungkas Imam.
Kini, setelah lelah perjalanan ditinggalkan di belakang, tim BMH bersiap menunaikan tugas yang sesungguhnya: menyalurkan amanah kebaikan dan menghadirkan harapan bagi para penyintas banjir di Aceh Tamiang. Perjalanan panjang telah tuntas, namun aksi kemanusiaan baru saja dimulai./Herim
