Kam. Okt 8th, 2026
meneteri pppa

Pesantren Harus Bebas dari Kekerasan, Menteri PPPA Tegaskan Komitmen pada Peringatan Hari Santri Nasional

GenZmedia.id, Kediri — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan di pesantren. Pesan itu disampaikan dalam Seminar Pesantren Ramah Anak di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional 2025.

“Pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia yang berakhlak dan berjiwa kebangsaan. Perlindungan anak merupakan hal esensial jika kita ingin mencapai Indonesia yang maju,” ujar Menteri Arifah. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pesantren menjadi langkah penting agar setiap anak mendapatkan hak atas pendidikan yang aman dan bebas dari tindak kekerasan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri PPPA juga menyoroti tantangan perlindungan anak di era digital. Ia mengajak para santri untuk bijak menggunakan internet, mengingat ruang digital dapat membuka risiko kekerasan, perundungan, hingga eksploitasi seksual daring.

Kementerian PPPA terus mendorong penerapan Pesantren Ramah Anak — pesantren yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati hak anak, dan menumbuhkan budaya pengasuhan tanpa kekerasan. Sejumlah langkah strategis tengah diperkuat, di antaranya integrasi prinsip perlindungan anak ke dalam tata kelola pesantren bersama Kementerian Agama, pelatihan pengasuh dan ustadz tentang pengasuhan tanpa kekerasan, pembentukan Satgas Perlindungan Anak Pesantren (Satgas PAP), serta penguatan sistem pelaporan berbasis pesantren melalui layanan SAPA 129 dan SIMFONI PPA.

“Penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak membutuhkan kerja sama semua pihak. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas agar kekerasan tidak terjadi di lingkungan pesantren maupun di tempat lainnya,” tegasnya.

Menteri Arifah juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kediri dan para pimpinan Pesantren Lirboyo atas komitmennya dalam mendidik generasi muda Indonesia. “Pesantren Ramah Anak adalah cermin tekad kita membangun Indonesia yang beradab dan berkeadilan. Mari jadikan pesantren sebagai rumah kasih bagi anak-anak kita,” ujarnya.

Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, turut menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk bersinergi dengan pondok pesantren. “Kita ingin setiap santri belajar dengan tenang dan tumbuh dalam kasih sayang. Anak yang tumbuh di lingkungan aman akan menjadi generasi yang kuat, berilmu, dan berakhlak mulia,” katanya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, mengingatkan bahwa pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga wadah pembentukan akhlak dan adab. “Akhlak adalah modal utama agar seseorang diterima di masyarakat. Karena itu, pesantren harus dibangun dalam suasana penuh kasih, saling menghormati, dan bebas dari kekerasan,” ujarnya.

Dalam rangkaian acara tersebut, Pondok Pesantren Lirboyo juga menerima bantuan satu ton ikan laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta beasiswa pendidikan bagi santri berprestasi dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan PT Grab Indonesia.