Kam. Okt 8th, 2026
FOZ

Forum Zakat Angkat “The Living Qur’an Jar” di Diskusi Ruang Tengah Imam Nawawi Ajak Generasi Muda Hidup Berdasarkan Nilai Al-Qur’an

GENZMEDIA.ID, JAKARTA – Forum Zakat (FOZ) kembali menggelar Ruang Tengah, sebuah forum diskusi daring yang menjadi ruang refleksi dan berbagi inspirasi bagi para pegiat zakat, sosial, dan kemanusiaan. Kegiatan ini rutin menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif yang membahas berbagai isu aktual seputar gerakan zakat dan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan modern.

Edisi kali ini, yang berlangsung pada Rabu (30/10/2025) melalui Zoom, mengangkat tema menarik: “The Living Qur’an Jar.” Hadir sebagai narasumber utama, Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat sekaligus Anggota Bidang V FOZ Nasional, memberikan penguatan makna dan semangat kebaikan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an di tengah derasnya arus perubahan sosial.

Dalam sambutannya, Imam Nawawi menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci untuk dibaca, tetapi petunjuk hidup yang harus dihidupkan. “Kita perlu menjadikan Al-Qur’an benar-benar ‘hidup’ dalam diri dan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dibaca, tapi dipraktikkan dalam setiap keputusan, langkah, dan tindakan,” ujarnya penuh semangat.

Program The Living Qur’an Jar yang diangkat FOZ kali ini menjadi simbol sekaligus strategi penting untuk memperkuat kolaborasi antar lembaga amil zakat. Melalui semangat kolaborasi tersebut, FOZ berharap nilai-nilai Al-Qur’an bisa lebih nyata dirasakan masyarakat. “Zakat bukan cuma soal angka, tapi soal kesadaran. Kesadaran bahwa kebaikan bisa menular, dan kolaborasi bisa jadi jembatan menuju perubahan sosial yang lebih luas,” tambah Imam.

Ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an memberikan panduan hidup yang sangat jelas. Salah satunya melalui perintah untuk berbuat baik dan memperbaiki kehidupan sosial, sebagaimana tertuang dalam Surat An-Nisa ayat 114. “Setiap langkah perbaikan adalah bentuk nyata dari kebaikan yang diajarkan Al-Qur’an. Kalau umat bersungguh-sungguh menjadikannya pedoman, maka hidup akan lebih terarah dan bermakna,” ujarnya.

Namun, Imam juga menyoroti tantangan besar zaman ini: arus konten negatif atau fenomena “brain rot” yang merusak cara berpikir dan perilaku banyak orang, terutama generasi muda. “Sekarang ini banyak orang lebih sibuk mengejar hal-hal viral tapi kosong makna. Ini bikin kita jauh dari Al-Qur’an tanpa sadar. Padahal, Al-Qur’an adalah obat dari kegelisahan hidup modern,” tegasnya.

imam

Mengutip Surat Al-Qalam, Imam menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an akan terhindar dari kegilaan hidup dunia yang semu. “Kita perlu jadi generasi yang kuat mental dan spiritual. Generasi yang berpikir mendalam seperti ulul albab, bukan sekadar ikut tren tanpa arah,” ujarnya lagi.

Bagi Imam, menjadi ulul albab berarti menggabungkan iman, nalar kritis, dan kepedulian sosial. Dengan memahami Al-Qur’an secara mendalam, seseorang akan lebih bijak dalam bertindak dan membawa manfaat bagi lingkungannya. “Kalau kita hidup dengan panduan Al-Qur’an, kita nggak cuma selamat secara pribadi, tapi juga bisa jadi cahaya bagi orang lain,” katanya.

Menutup sesinya, Imam Nawawi mengajak peserta dan seluruh umat untuk berjamaah dalam kebaikan. Menurutnya, kebaikan yang dilakukan bersama akan melahirkan kekuatan yang lebih besar untuk mengubah keadaan.

“Dengan Al-Qur’an, kita bukan hanya menjaga diri, tapi juga saling menguatkan. Inilah cara agar Islam bisa hadir dengan indah, damai, dan membumi,” tutupnya.

Diskusi Ruang Tengah kali ini menjadi refleksi menarik bagi generasi muda, khususnya mereka yang ingin menyeimbangkan kehidupan spiritual dan digital. Di tengah derasnya informasi, The Living Qur’an Jar mengingatkan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an tetap relevan — bahkan menjadi kompas terbaik untuk menavigasi kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi.