“Bukan Sekadar Pelajaran, SciencePreneur Ajak Siswa SMA Bakti Mulya 400 Ciptakan Inovasi”
GENZMEDIA.ID, JAKARTA — Sains tidak harus berhenti di buku pelajaran. Dari rasa ingin tahu, penelitian, dan keberanian mencoba, sebuah ide dapat berkembang menjadi inovasi yang bermanfaat. Pesan tersebut menjadi salah satu hal yang disampaikan SciencePreneur dalam kegiatan Roadshow SciencePreneur di SMA Bakti Mulya 400 Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Kholis Abdurrahim Audah, Ph.D., Founder dan CEO SciencePreneur, untuk berbagi pengalaman sekaligus memperkenalkan cara pandang baru kepada siswa tentang hubungan antara sains, riset, inovasi, dan kewirausahaan.
Di hadapan para siswa, Kholis mendorong generasi muda untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi. Menurutnya, anak muda juga perlu memiliki keberanian untuk menciptakan gagasan dan mengembangkan solusi dari persoalan yang mereka temukan di lingkungan sekitar.
“Rasa ingin tahu harus dipelihara. Dari pertanyaan sederhana, bisa lahir penelitian, kemudian berkembang menjadi inovasi,” menjadi semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut.
Dari Mangrove Menjadi Produk Inovatif
Salah satu bagian yang menarik perhatian siswa adalah pengenalan Mangrovita, inovasi pemanfaatan buah dan daun mangrove menjadi produk minuman.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan jus berbahan buah mangrove serta minuman seduh dari daun mangrove yang dikembangkan menggunakan merek Mangrovita.
Bagi siswa, pengenalan tersebut menjadi contoh konkret bahwa sesuatu yang berada di sekitar kita dapat memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk inovatif.
Mangrove selama ini lebih sering dipahami sebagai bagian dari ekosistem pesisir yang berfungsi menjaga lingkungan. Melalui pendekatan riset, SciencePreneur menunjukkan bahwa potensi lokal juga dapat menjadi sumber ide untuk menghasilkan produk bernilai tambah.
Namun, pengembangan tersebut tetap harus dilakukan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Pemanfaatan mangrove perlu dilakukan secara bertanggung jawab agar inovasi tidak justru mengancam kelestarian ekosistem.
Startup Riset yang Perlu Diperhatikan
Selain memperkenalkan inovasi, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengenalkan SciencePreneur sebagai salah satu startup di bidang riset dan inovasi.
Keberadaan startup semacam ini dinilai penting karena dapat menjadi jembatan antara hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Riset yang sebelumnya berada di lingkungan akademik dapat dikembangkan menjadi produk atau solusi yang memiliki manfaat nyata.
Karena itu, startup berbasis riset dan inovasi semestinya mendapat perhatian lebih dari pemerintah.
Dukungan pemerintah dinilai penting untuk membantu startup menghadapi berbagai tantangan dalam proses pengembangan inovasi, mulai dari riset lanjutan, pembiayaan, pengembangan produk, fasilitas, pendampingan, hingga akses pasar.
Dengan ekosistem yang mendukung, hasil riset dan kreativitas anak bangsa diharapkan tidak berhenti sebagai prototipe atau karya akademik, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang memberikan dampak bagi masyarakat.
Ketika Sains Bertemu Kewirausahaan
SciencePreneur membawa pendekatan yang menghubungkan sains, penelitian, inovasi, dan entrepreneurship.
Sebuah ide ilmiah tidak cukup hanya memiliki nilai akademik. Ketika ingin dikembangkan menjadi produk, diperlukan pemahaman mengenai kebutuhan masyarakat, karakter konsumen, pengembangan merek, pemasaran, serta keberlanjutan bisnis.
Mangrovita menjadi salah satu gambaran bagaimana proses tersebut dapat dilakukan. Potensi buah dan daun mangrove dikembangkan melalui pendekatan riset dan inovasi untuk menghasilkan produk minuman yang memiliki nilai tambah.
Bagi siswa SMA, pendekatan ini memberikan pesan bahwa belajar sains tidak harus selalu berakhir dengan ujian atau nilai akademik. Ilmu yang dipelajari dapat menjadi bekal untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Mengajak Gen Z Menjadi Pencipta
Roadshow SciencePreneur di SMA Bakti Mulya 400 Jakarta juga menjadi ruang untuk membangun cara berpikir generasi muda agar lebih berani melihat peluang dari persoalan.
Siswa didorong untuk bertanya, mengamati, melakukan eksperimen, dan tidak takut mengalami kegagalan dalam proses menemukan sesuatu.
Dari sinilah semangat SciencePreneur diperkenalkan: belajar untuk memahami, meneliti untuk menemukan, berinovasi untuk menciptakan, dan berwirausaha untuk memberikan nilai tambah.
Pengenalan Mangrovita menunjukkan bahwa inovasi bisa berawal dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan. Dengan riset, kreativitas, teknologi, serta ekosistem yang mendukung, potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang memberikan manfaat.
Bagi generasi muda, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menggunakan teknologi, tetapi juga siapa yang berani menciptakan solusi dan mengubah ide menjadi sesuatu yang nyata.
Sementara bagi pemerintah, berkembangnya startup seperti SciencePreneur menjadi sinyal bahwa ekosistem riset dan inovasi perlu terus diperkuat agar lebih banyak karya anak bangsa yang mampu keluar dari ruang penelitian dan hadir sebagai solusi bagi masyarakat.
