Kam. Okt 8th, 2026
Rizki

Rizki Ulfahadi Kenalkan Nilai SIAP sebagai Fondasi Kader GMH di NGL Jawa-Bali

GenZmedia.id, YOGYAKARTA, — Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) Rizki Ulfahadi mengajak kader muda memahami sekaligus menerapkan nilai-nilai dasar Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Next Gen Leaders (NGL) Regional Jawa-Bali yang digelar di Asrama Haji Yogyakarta, Jumat (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Rizki memaparkan Core Values GMH yang dirangkum dalam akronim SIAP, yaitu Spiritualitas, Intelektualitas, Aktivisme, Pemberdayaan, dan Pengabdian. Lima nilai ini menjadi pijakan penting dalam proses pembentukan kader GMH agar tidak hanya memiliki kapasitas akademik, tetapi juga karakter, integritas, dan kepedulian sosial.

“Core Values GMH kami rumuskan dalam akronim SIAP. Kader GMH harus memiliki spiritualitas yang kuat, intelektualitas yang unggul, aktivisme yang produktif, semangat pemberdayaan, dan seluruh proses itu bermuara pada pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Rizki.

Ia menjelaskan, spiritualitas menjadi fondasi pertama dalam membangun karakter kader. Dengan spiritualitas yang kuat, setiap aktivitas mahasiswa diharapkan memiliki orientasi ibadah dan nilai moral yang jelas.

Sementara itu, intelektualitas menjadi modal bagi mahasiswa untuk membaca persoalan secara kritis, melahirkan gagasan, sekaligus menawarkan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dan bangsa.

“Mahasiswa tidak cukup hanya aktif berorganisasi atau berprestasi secara akademik. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu, karakter, dan kepemimpinannya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Rizki juga menekankan pentingnya aktivisme yang tidak berhenti pada aktivitas organisasi semata. Menurutnya, gerakan mahasiswa harus diarahkan menjadi gerakan yang produktif, solutif, dan mampu memberikan dampak nyata.

Adapun nilai pemberdayaan, lanjut dia, merupakan bentuk keberpihakan mahasiswa terhadap masyarakat. Kader tidak hanya dituntut memahami persoalan sosial, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mendorong masyarakat agar semakin mandiri dan berdaya.

Dari keseluruhan nilai tersebut, pengabdian menjadi muara utama proses kaderisasi. Ilmu, kemampuan memimpin, serta pengalaman berorganisasi diharapkan tidak berhenti menjadi modal pribadi, tetapi dikembalikan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

“Pengabdian adalah tujuan akhir dari seluruh proses kaderisasi. Sebaik-baik ilmu, kepemimpinan, dan aktivitas adalah yang memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” tutur Rizki.

Melalui NGL Regional Jawa-Bali, PP GMH berharap peserta tidak hanya memahami konsep Core Values SIAP, tetapi mampu menerapkannya dalam berbagai ruang kehidupan, mulai dari lingkungan kampus, organisasi, hingga masyarakat.

Nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi kader GMH untuk tumbuh sebagai generasi muda Muslim yang memiliki karakter kuat, wawasan luas, kepedulian sosial, serta kesiapan mengambil peran dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.