Willy Aditya Ajak Mahasiswa Hidayatullah Kuasai Ilmu untuk Jadi Penggerak Peradaban
GENZMEDIA.ID, YOGYAKARTA — Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mendorong mahasiswa untuk menjadikan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai modal utama dalam membangun masa depan bangsa. Menurutnya, kemajuan sebuah negara sangat ditentukan oleh kemampuan generasi mudanya dalam mengembangkan dan memanfaatkan ilmu.
Pesan tersebut disampaikan Willy saat membuka kegiatan Next Gen Leaders (NGL) Regional Jawa-Bali yang digelar Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) di Asrama Haji Yogyakarta, Jumat (7/8/2026).
Di hadapan para peserta NGL, Willy mengajak mahasiswa melihat perjalanan berbagai peradaban dunia. Ia mengatakan, sejarah memperlihatkan bahwa kebangkitan sebuah bangsa selalu memiliki kaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual masyarakatnya.
Willy kemudian mencontohkan Nicolaus Copernicus, ilmuwan yang dikenal melalui teori heliosentrisnya. Menurut dia, Copernicus tidak hanya memiliki kemampuan akademik dalam bidang matematika dan astronomi, tetapi juga keberanian untuk menyampaikan gagasan berdasarkan kajian ilmiah.
“Kemajuan sebuah bangsa selalu diawali oleh ledakan ilmu pengetahuan. Copernicus bukan hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk menyampaikan kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan,” kata Willy.
Ia juga mengajak mahasiswa menengok kembali masa kejayaan peradaban Islam yang melahirkan banyak ilmuwan dan pemikir, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Al-Ghazali. Bagi Willy, sejarah tersebut menjadi bukti bahwa tradisi intelektual memiliki posisi penting dalam membangun peradaban yang maju.
Selain peradaban Islam, Willy menyinggung perkembangan Eropa yang ditopang oleh pertumbuhan universitas sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Ia juga menyebut Jepang sebagai contoh negara yang berhasil melakukan transformasi melalui Restorasi Meiji.
Menurut Willy, Jepang kala itu secara serius mempelajari ilmu dan teknologi dari negara-negara lain. Pelajar dikirim ke luar negeri, sementara berbagai literatur tentang modernisasi diterjemahkan dan dipelajari untuk mempercepat proses pembaruan.
“Pertanyaannya, sejauh mana penguasaan ilmu pengetahuan generasi muda Indonesia hari ini? Jika ingin menjadi bangsa maju, kita harus menjadikan ilmu pengetahuan sebagai budaya, bukan sekadar pelengkap pendidikan,” ujarnya.
Mahasiswa Tak Cukup Sekadar Mengejar Gelar
Willy menilai mahasiswa memiliki posisi penting dalam perjalanan pembangunan Indonesia. Kampus, kata dia, seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk mengejar gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membangun budaya berpikir kritis, melakukan kajian, dan melahirkan gagasan yang relevan dengan persoalan masyarakat.
Karena itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, melakukan riset, dan menguji berbagai gagasan secara kritis. Penguasaan ilmu juga harus diarahkan agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
NGL Disiapkan Jadi Ruang Pembentukan Pemimpin Muda
Sementara itu, Ketua Umum PP GMH Rizki Ulfahadi mengatakan, NGL Regional Jawa-Bali merupakan bagian dari upaya organisasi dalam membentuk karakter dan kapasitas kepemimpinan mahasiswa Muslim.
Menurut Rizki, NGL tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan kepemimpinan peserta. Program tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan tradisi intelektual, kepedulian sosial, serta kesiapan generasi muda menghadapi berbagai perubahan.
“Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki semangat, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan. Karena itu, kami ingin NGL menjadi ruang lahirnya mahasiswa yang berpikir kritis, berkarakter, dan siap menjawab tantangan zaman,” kata Rizki.
Ia menambahkan, penguasaan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan integritas dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Mahasiswa perlu mampu menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan kebutuhan umat, bangsa, dan negara.
Rizki berharap peserta NGL dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mampu membaca perubahan, tetapi juga berani mengambil peran dalam menghadirkan solusi.
“Kami berharap peserta NGL tidak berhenti menjadi pencari ilmu, tetapi tumbuh menjadi penggerak peradaban yang menghadirkan solusi bagi umat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
NGL Regional Jawa-Bali diikuti mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di wilayah Jawa dan Bali. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda kaderisasi PP GMH dalam menyiapkan generasi pemimpin muda Muslim yang memiliki wawasan kebangsaan, kapasitas intelektual, karakter kuat, dan kesiapan berkontribusi menuju Indonesia Emas 2045.
Melalui NGL, PP GMH berharap lahir generasi mahasiswa yang mampu memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman, integritas, kepemimpinan, serta kepedulian sosial.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut mengambil peran sebagai penggerak peradaban dan pemberi solusi bagi bangsa.
